Koalisi Partai Islam, Mungkinkah?

21 Apr 2014

Alhamdulillah hajatan demokrasi tahap pertama alias Pileg 2014 berjalan aman dan lancar. Berdasarkan hitung cepat, pemenangnya pun sudah ketauan.Kendati begitu tak ada parpol dengan suara di atas 20 persen. Artinya harus ada koalisi untuk mencalonkan presiden dan wakil presiden.

Kalau saat kampanye lalu antar politisi partai saling serang, kini setelah hasil pileg diumumkan mereka mulai mencari dukungan. Saling silaturahmi untuk penjajakan koalisi. Di sinilah kepentingan bermain. Nego menego, tawar menawar antar partai. Siapa yang deal mereka lah yang berkoalisi.

Tak hanya antar partai tapi juga belusukan ke ormas-ormas islam, organisasi intelektual, kepemudaan dan lain-lain yang memiliki keanggotaan besar dan solid. Para politisi mencoba meyakinkan dan menjanjikan dengan harapan mendapatkan dukungan.

Pada pemilihan presiden nanti banyak pengamat memprediksi akan ada 3 pasangan yang bakal maju. Mereka adalah Joko Widodo alias Jokowi, Abu Rizal Bakrie dan Prabowo. Karena mereka ini capres yang diusung 3 partai dengan suara terbanyak yakni PDIP, Golkar dan Partai Gerindra.

Lantas ke arah mana suara partai-partai islam yang kini memiliki suara menengah? Bila digabungkan suara PKB, PPP, PAN, PKS serta PBB partai berbasis islam katanya bisa mencalonkan sendiri capresnya. Usaha membangun koalisi partai islam pun kembali digalakan tokoh nasional Amien Rais dengan mengkumpulkan ketua umum dan politisi partai-partai berbasis islam.

Namun sejauh mana partai islam bisa satu suara? Hingga kini usaha itu masih terus berjalan. Muncul pertanyaannya dari penulis, bisakah partai islam berkoalisi dan menentukan capres dan cawapres sendiri? Kalau mau jujur, saya sebagai penulis meragukan itu. Tapi berharap keraguan saya ini salah.

Dasar koalisi yang dibangun partai-partai islam harus berniat dari kepentingan dakwah agama. Bukan pada ke kekuasaan duniawi semata alias bagi-bagi kekuasaan. Ini kan rencana koalisi terjadi karena sama-sama bernasib kalah. Coba kalau jauh-jauh hari mereka (partai-partai islam) punya tujuan dakwah yang sama. Tidak sendiri-sendiri dalam berjuang.

Belum lagi ego golongan yang menjadi masalah dalam mencari pemimpin. Muncul pemimipin harus dari golongannya bukan golongan yang lain. Nah, mencari tokoh yang bisa diterima semua golongan islam inilah yang jadi PR umat ke depan.

Partai islam miskin tokoh yang bisa diidolakan umat dan diunggulkan untuk dijadikan capres dan cawapres. Harusnya dari dulu partai-partai islam sudah menyiapkan tokoh yang bisa dijual yang bisa diterima semua golongan termasuk juga non muslim. Selain itu, partai islam harus siap menjadi oposisi.

Semenjak jaman reformasi ini partai islam selalu dalam lingkungan kekuasaan. Tak pernah menjadi oposisi. Oposisi bukan jelek, tapi hanya kalah suara. Memilih menjadi oposisi bisa jadi lebih baik. Pilihanya sekarang koalisi atau siap menjadi oposisi.


TAGS


-

Author

Hanya seorang admin

Search

Recent Post