Ambil KPR Rumah Lewat Bank Syariah

1 Jul 2016

Alhamdulillah keinginan untuk punya rumah sendiri tercapai di tahun 2016. Dengan mengucapkan Bismillah saya pun memberanikan diri untuk mengambil rumah meski lewat KPR.

Agak menyesal sih, kenapa baru sekarang ini saya memutuskan membeli rumah. Kenapa tidak dari dahulu aja. Dulu saya berpendapat karena merasa masih muda jadi belum merasa perlu. Tapi ini pendapat yang salah dan jangan diikuti. Justru disaat masih mudahlah kita sudah memikirkan investasi.

 


Saat mau ambiil KPR rumah, sempat agak bingung juga. Jujur aja saya belum pernah ambil kredit yang jumlahnya ratusan juta. Ada rasa was-was nggak sanggup bayar lantaran mikirin bunga bank.

Setelah survei beberapa perumahan, akhirnya saya memutuskan untuk mengambil rumah di kawasan Jatiasih, Bekasi. Penggennya sih masih di kawasan Jakarta. Tapi tahu diri dengan kemampuan keuangan yang hanya bisa di pinggiran Jakarta.

Harga sudah sepakat dengan pengembang tinggal menunggu bank mana yang dipilih untuk keperluan KPR. Banyak pertimbangan apakah lewat bank konvensional atau bank syariah. Akhirnya mulai tanya sana sini dan juga browsing internet.  

Setelah memikirkan banyak pertimbangan akhirnya saya memilih KPR Syariah. Alasannya suku bunga tidak berubah alias flat sepanjang masa kredit.

Harga jual rumah ditetapkan diawal ketika nasabah menandatangani perjanjian pembiayaan jual beli rumah. Misalnya, harga beli rumah Rp 100 juta. Untuk jangka waktu 5 tahun, bank syariah mengambil keuntungan/margin sebesar Rp 50 juta. Maka harga jual rumah kepada nasabah untuk masa angsuran 5 tahun adalah sebesar Rp 150 juta. Angsuran yang harus dibayar nasabah setiap bulan adalah Rp 150 juta dibagi 60 bulan (5 tahun) = Rp  2.5 juta.

Jadi diawal saya sudah tahu berapa kewajiban membayar setiap bulannya. Ini terkait dengan perencanaan keuangan. Dengan kondisi penghasilan saya, berapa uang yang harus saya sisahkan untuk membayar anggsuran rumah dan kebutuhan lainnya.

Sementara untuk KPR bank konvensional menawarkan cicilan tetap hanya pada 1 sampai 3 tahun di awal kredit. Setelah itu, bank menggunakan bunga mengambang, yang besarnya mengikuti kondisi pasar, sehingga cicilan bisa berubah – ubah setiap saat. Ini yang dikuatirkan akan berdampak pada perencanaan keuangan saya.

Ngomongin soal sistem keuangan, Alhamdulillah sekarang sudah ada OJK (Otoritas Jasa Keuangan) yang fungsinya sebagai penyelenggara sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di sektor jasa keuangan.

Dengan adanya OJK maka perbankan dan jasa keuangan di Negara kita akan memnuculkan persaingan yang Sehat, dinamis dan Teratur sesuai dengan harapan dari para Nasabah.


 


TAGS lomba


-

Author

Hanya seorang admin

Search

Recent Post